JAMAAH TABLIGH SUATU KELOMPOK YANG RADIKAL KEPADA TUHAN BUKAN MANUSIA. Review Living Hadith in Tablighi Jemaat by: Barbara Metcalf

Oleh: Gusti Ramli (Mahasiswa Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga)

Jama’ah Tabligh konsisten menggunakan karya-Karya ulama lokal JT india, yang mana berdasarkan terjemahan Al-Quran dan sunnah. Beretos mistik, penuh kepasrahan, penuh penanaman praktik benar yang saleh di kalangan umat Islam. Kitab atau pedomannya adalah Tablighil Nishob, atau juga Fadhoilul A’mal. Dan yang paling banyak dibaca, dan disanjung-sanjung adalah kitab Hikayah as-Shahabah. Tema tersebut menggunakan standar otoritas yang ditetapkan oleh hadis dan memperlihatkannya sebagai otoritas yang bukan merupakan buatan manusia sehingga bersifat abadi. Teladannya berlaku bagi segala zaman.

Mereka menghindari kritikan terhadap adat dan kebiasaan yang buruk dan lebih menyukai semacam hukum perbaikan terbalik Gresham (reverse Gresham’s law of reform) yang menyatakan bahwa praktik-praktik yang baik dengan sendirinya akan melenyapkan praktik-praktik yang buruk. Anggota JT mengatakan bahwa mereka menekankan fadha’il daripada (perunutan) masa’il, karena pendapat fikih yang berbeda-beda yang terbukti bisa menimbulkan pertikaian.

Penekanannya JT bukanlah pada kesalahan tetapi pada perbandingan antara amal saleh Menurutnya umat Islam dewasa ini masih kalah jauh jika dibandingkan dengan amal saleh dan jihad oleh para teladan agung masa silam. Perhatiannya tidak pada bid’ah (perbuatan baru yang tercela) namun lebih pada kemalasan.

Serta konsep jihad JT pun tidak menggebu-gebu ataupun bisa disebut “Radikal” Di Delhi selatan, misalnya, jama’ah dosen dan mahasiswa perguruan tinggi diserang di sebuah masjid dan beberapa orang terluka serius; kendatipun desakan dari pejabat kepolisian, mereka bersikukuh untuk tidak mengajukan tuntutan. “Kami datang untuk memberikan hidayat,” salah seorang dari mereka memberitahu saya, “bagaimana mungkin kami mengajukan tuntutan?” Hadis memberikan makna bagi kehidupan orang beriman dan, pada gilirannya, pengalamannya memberikan kehidupan kepada teks.

JT lebih Fokus terhadap hal Sufistik ini dibuktikan dengan Maulana Zakariyya menggunakan idiom Sufi di sepanjang bukunya, dengan mengutip puisi-puisi cerdas Persia yang mempertentangkan kecintaan dunia yang fana dengan gelora nyata kecintaan kepada Tuhan. Juga berupaya untuk membedakan diri mereka sendiri dengan gaya hidup keduniaan dan kosmopolitan yang seringkali dikaitkan dengan aktivitas-aktivitas semacam itu. Dalam bab yang memuji-muji rasa takut para sahabat kepada Tuhan, Hikayat menolak sikap-sikap “modern” terhadap tipuan dunia dan godaan sikap moderat dalam beragama.

Semua ajaran JT mendorong kepasrahan radikal kepada Tuhan dan kepada Tuhan semata, Para anggota JT memilih untuk mengidentikkan diri mereka dengan teladan-teladan hadis yang menjauhkan mereka dari kehidupan kebanyakan masyarakat mereka sendiri saat ini, dengan mengidentikkan diri dengan nestapa dan semangat umat Muslim masa lalu yang agung dan umat Muslim yang menghidupkan masa lalu ke dalam masa kini bahkan hingga kini.

Kasus Jamaah Tabligh di Paris

Keppel mengemukakan, memahami alasan umat JT berbusana seperti ke arab-araban, maka kita perlu dan sudah cukup dengan membuka [kitabnya] pada halaman [tentang berbusana] (bab tentang adab berpakaian). Bab pertama berjudul “Baju berwarna putih disunnahkan, yang berwarna merah, hijau, kuning, dan hitam diperbolehkan; kain katun, linen, kain bulu kuda, kain wool, dan seterusnya diperbolehkan —hanya sutera yang haram” disambung dengan dua ayat al-Qur’an diikuti dengan hadis Nabi. Bab lain memberikan paparan fikih tentang busana, gamis, ekor sorban yang dibiarkan menggantung di punggung, larangan sombong dalam berpakaian, dll.

Singkat kata, Taman Orang-Orang Saleh [Riyadhush Shalihin]. memberikan jawaban bagi umat JT terhadap semua permasalahan praktis sehari-hari dan memungkinkan dirinya untuk mencontoh semirip-miripnya tindak-tanduk Nabi. Kitab ini merupakan norma perilakunya, yang penuh dengan perintah dan anjuran (kitab tersebut juga menunjukkan doa manakah yang perlu dibaca ketika bepergian, memasuki rumah, berdahak pada saat makan, dll.) sekaligus larangan yang berkisar dari praktik-praktik keagamaan yang menyimpang atau sesat (ikut serta dalam penyembahan kubur, misalnya) hingga penjabaran fungsi-fungsi badaniah yang paling sepele sekalipun (larangan buang air besar di jalanan umum atau buang air kecil di air yang tidak mengalir). Dua ciri khas mendorong umat JT memilih kitab ini: metode pengelompokan tematisnya yang memungkinkan pemanfaatannya sebagai buku panduan dan syarahnya yang cukup ringkas (karena masing-masing hadis hanya diawali dengan nama perawi pertama) sehingga merupakan buku saku yang sangat ideal bagi “para dai.”

namun juga pola sangat spesifik JT dalam melakukan kampanye-kampanye untuk menyebarluaskan Islam. Di mata pendiri JT, Maulana Ilyas, ajaran penting al-Qur’an adalah bahwa umat Islam merupakan “umat terbaik” hanya kalau mereka “memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran,” suatu perjuangan yang dirangkumnya dengan nama tabligh.[9] Juga yang menjadi ciri khusus dari JT adalah diskursus sufisme. (Khuruj) serta pemahamannya bahwa:

“betapapun sederhana asal-usulnya atau terbatas pendidikannya, bisa menjadi seorang dai, seperti halnya masing-masing peserta dipahami memiliki akses yang nyaris instan menuju kondisi-kondisi spiritual tertentu yang dianugerahkan kepada para pengelana dalam perjalanan sufi.” [Wallahu a’alam]