Prof. Farid Esack : Soal Menyoal Konteks dalam Memahami Al-Qur’an, Islam dan Modernitas

LSQH sebuah lembaga yang mengkaji al-Qur’an dan Hadis di Prodi Ilmu Hadis Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bekerjasama dengan Pascasarjana menyelenggarakan kuliah umum dengan mendatangkan pakar hermeneutika terkenal. Hal ini dilaksanakan Selasa tanggal 26 Maret 2019. Narasumber kegiatan ini adalah Guru Besar University of Johannesburg Afrika Selatan, Farid Esack. Acara ini sendiri dikemas dengan bentuk Public Lecture yang bertajuk “The Quran & Being Muslim in a Globalizing World”. Selama dua jam Professor kelahiran 60 tahun yang lalui ini mengkaji problem kekinian atas pemahaman teks khususnya al-Qur’an.

Dalam seminar selama dua jam tersebut, Professor kelahiran Cape Town Afrika Selatan tersebut mengupas habis korelasi dan beragam dampak yang muncul di antara dunia modern dengan teks-teks agama, terutama al Quran. Ia begitu konsen terhadap al-Qur’an yang bukan hanya berbicara soal teks yang tertulis dalam mushaf. Dalam hal ini beliau mengatakan: “Hanya saja memang al-Qur’an yang masif ada saat ini adalah berbentuk teks. Al-Qur’an melebihi itu, tidak mungkin akan muncul banyak penafsiran orang-orang besar jika memang al-Qur’an lingkupnya hanya sebagai tulisan-tulisan dalam kertas biasa yang tercetak,” demikian tegas Farid Esack dalam kuliah umum ini.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa al-Qur’an pada era ini tidak bisa dimaknai secara instan, karena akhir-akhir ini muncul berbagai problem yang kompleks, sehingga al-Qur’an yang global tersebut tidak arif bila semata-mata dijadikan alat tunggal dalam penyelesaian suatu masalah. Di ujung seminar tersebut, ia menyimpulkan beberapa poin penting dalam pertemuan pagi itu. Pertama, mempelajari dan memahami al-Qur’an akan selalu diikuti dengan kewajiban untuk memahami konteks tertentu, Kedua, mengenai relasi antara islam dengan modernitas. Bukan berarti sebagai muslim, kita menolak mentah-mentah modernitas yang berkembang pesat, namun yang terpenting adalah bagaimana kita melakukan re-shape terkait eksistensi dalam konteks yang baru tersebut. (Perdana/MAS)