Beasiswa sebagai bentuk Investasi Jangka Panjang yang Memiliki Dampak Besar

Rabu, 15 Mei 2019 PendidikaDiniyah dan Pondok Pesantren Kemenag RI mengadakan acara penting dalam rangkaian seleksi PBSB tahun 2019. Kegiatan ini dilaksanakan di Royal Padjadjaran Bogor dengan melibatkan seluruh pengelola PBSB yang ada termasuk di dalamnya adalah dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kesempatan ini diwakili oleh Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag. M.Ag.
PBSB 2019 hanya menerima 200 orang 30 orang ke Luar Negeri yaitu ke al-Azhar Kairo yang sudah dilakukan seleksi dengan pendaftar 992 orang. Mereka tersebar dilima tempat lokasi tes yaitu di DKI Jakarta, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (475 santri), Jawa Barat, UIN Sunan Gunung Djati Bandung (105 santri), Jawa Tengah, MAN 1 Semarang (111 santri), Jawa Timur, ITS Surabaya (203 santri), Sulawesi Selatan, MAN 2 Model Makassar (98 santri).
Demikian juga PBSB dalam negeri walaupun bertambah Mitra di dalamnya namun jumlah terbatas hanya 170 orang dan dengan pendaftar 10.000 orang lebih. Sehingga dalam pelaksanaan PBSB 2020 harus ditingkatkan jumlahnya. Hal tersebut dikatakan Prof. Dr. H. Kamaruddin Amin, MA. Dirjend Pendis Kemenag ketika membuka rangka persiapan CBT dengan Perguruan Tinggi Mitra tersebut.
Peningkatan jumlah penerima PBSB adalah penting. Hal ini dikarenakan anak-anak Indonesia pandai dan mereka tidak memiliki kesempatan untuk kuliah. Dengan program PBSB ini mereka dapat melanjutkan studinya baik di dalam maupun di luar negeri. Lebih lanjut beliau menjelaskan alas an kenapa Beasiswa Luar Negeri? Hal ini dikarenakan Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang baik. Indonesia harus malu dengan Turki yang telah mempu memberi beasiswa 150.000 orang. Indonesia tidak pernah memberikan beasiswa kepada orang Asing. Demikian juga Indonesia harus malu dengan Yaman yang kondisi ekonominya di bawah Indonesia yang dapat memberikan beasiswa kepada orang Indonesia. Oleh karenanya, tahun ini Dirjend Pendis memaksa harus ada beasiswa untuk ke Luar Negeri walaupun hanya kecil 30 orang.
Hal senada juga terlihat ketika tahun 2000 orang Indonesia yang ke Jerman sebanyak 20 orang saja dan dari Kementerian Agama hanya dua orang. Sekarang, kondisi ini sudah berubah sudah terdapat ratusan orang dosen yang kuliah di PT luar negeri. Mereka ini jika kembali ke PT masing-masing akan dapat melakukukan transfer keilmuan yang sangat menentukan masa depan anak-anak bangsa yang bermutu dan berkualitas. Proram ini dikenal dengan 5000 doktor yang jumlah beasiswanya.
Berdasar hal di atas menjadikan beasiswa adalah bagian yang penting fundamental dalam meningkatkan SDM di masa yang akan datang. Sehingga, mereka yang mendapatkan beasiswa mampu mengabdi dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia. Kenyataan ini sudah dimasukkan dalam RPJM yang dilakukan oleh negara Indonesia. Demikian ungkap Pak Dijrjend Pendis yang merupakan seorang kelahiran dari Bone Sulsel. (MAS)