Penulis Jurnal Esensia Mendapatkan Penghargaan Peneliti Terbaik di Ajang Biannual Confrence On Research Kemenag RI 2019

Salah satu artikel hasil penelitian yang dibiayai oleh Kementrian Agama RI melalui Dirjend Pendis dan Pendidikan Tinggi Islam yang terpublikasikan di Esensia: Jurnal Ilmu-ilmu Ushuluddin Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Seunan Kalijaga mendapatkan sebagai juara artikel terbaik ketiga. Di mana dalam acara tersebut ada dua kategori yakni kategori utama dan terbaik. Artikel tersebut adalah berjudul Habituation of Local Culture in Order to Prevent Religious Radicalism in Sukoharjo, Central Java yang terbit dalam edisi tahun 2018. Sehingga edisi yang memuat artikel tersebut adalah Vol 19, No 2 (2018) yang dapat diunggah melalui url berikut: http://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/esensia/article/view/1736.

Esensia sebagai jurnal terakreditasi sinta 2 kemenristek dikti telah menunjukkan kualitas artikelnya yang salah satu penulis artikel di dapat ikut serta dalam ajang bergengsi penelitian di Kementrian Agama. Artikel tersebut ditulis oleh oleh penelitinya yang merupakan dosen Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Bantul Yogyakarta dan sekaligus menjabat Wakil Rektor III di institusinya. Mereka itu adalah Ahmad Sihabul Millah. Penelitian tersebut menyisihkan beragam penelitian yang lain di seluruh PTKI yang terpilih dan ikut seleksi di UINSunan Gunung Djati, Bandung. Kegiatan seleksi pemilihan tersebut dilaksanakan pada tangga 3 hingga 5Desember 2019.

Pemaparan artikel tentang moderasi beragama ini memberikan perpektif baru dari kajian-kajian yang ada sebelumnya. Hal tersebut setidaknya kajian yang ada dalam meminimalisir radikalisasi sering dikaitkan dengan aturan tertentu belum tentu maksimal karena adanya apatisme terhadap aturan-aturan yang ada. Demikian ungkap peneliti yang juga merupakan alumni Jurusan Tafsir Hadis (TH) dan sekarang sedang melaksanakan kuliah doktornya di UGM. Sementara itu, menurut penelitian jika melakukan pola pemahaman dengan pendekatan teks keagamaan tertentu juga demikian dapat tertolak karena bukan dari tradisi mereka. Dengan demikian, atas pendekatan ini juga terjadi penolakan.

Budaya adalah solusi atas pemahaman radikal. Hal tersebut disampaikan Ahmad Sihabul Millah melalui artikel tersebut yang menunjukkan arti pentingnya penggunaan budaya dan adat istiadat. Pendekatan ini merupakan sebuah pendekatan yang paling netral dibandingkan atas pendekatan yang ada selama ini. Kenyataan dengan pendekatan tersebut sudah ada sejak lama yakni sejak jaman nenek moyang. Dengan cara ini pula, budaya dilaksanakan oleh semua orang tanpa memandang agama dan golongan manapun sehingga memudahkan untuk diterima dengan baik. (MAS)