Fasilitas
Unit
Senin, 11 Desember 2017 14:14:14 WIB Dilihat : 129 kali

Sifat Sosialis Rasulullah saw.

Di usianya yang masih enam tahun, ibunda Rasulullah SAW telah meninggal dunia. Menyusul dua tahun kemudian sang kakek yang merawatnya, yakni Abdul Mutthalib juga meninggal dunia. Sepeninggal kakeknya, Rasulullah SAW berada dalam asuhan pamannya, Abu Thalib. Abdul Mutthalib memilih Abu Thalib untuk mengasuh Rasulullah dengan pertimbangan bahwa Abu Thalib merupakan saudara kandung Abdullah dari ibu Fatimah binti Amr bin A’idh bin Abd bin Imran bin Makhzum. Beliau melewati masa-masa sulit bersama dengan pamannya. Rasulullah membantu Abdul Muthalib untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan menggembala kambing dan terkadang ikut berdagang ke Syam bersama Abu Thalib.(Hisyam: 2006)

Kesibukannya membantu sang paman dalam mencari nafkah tak lantas membuat Rasulullah menjadi seorang individualis. Pada waktu tertentu beliau juga berkecimpung dalam kegiatan umum yang menjadi perhatian masyarakat pada saat itu seperti perang Fijjar, perjanjian hilf al-fudhul, dan banyak lagi kegiatan kemasyarakatan lainnya. Perang Fijjar adalah peperangan untuk mempertahankan kesucian bulan-bulan haram (Dzulhijjah, Muharram, Dzulqa`dah, Dan Rajab) dan membela kedudukan suci. Sedemikian tinggi penghormatan orang Quraisy terhadap tempat dan bulan-bulan suci itu, sehingga bila ada seorang bertemu dengan orang lain yang membunuh ayahnya di tempat dan bulan-bulan haram, ia tidak akan melakukan tindakan balas dendam. Setelah islam datang, tradisi ini diakui kedudukannya dalam agama. Akan tetapi ada beberapa kabilah yang mengahalalkan bulan-bulan haram tersebut dengan melakukan pelanggaran-pelanggaran yang semestinya tidak boleh dilakukan, sehingga terjadilah perang Fijjar. (Al-Ghazali: tt)

Dalam catatan sejarah tidak ada kepastian berapa umur Rasulullah pada waktu terjadinya Perang fijjar. Ada yang mengatakan lima belas tahun, ada juga yang mengatakan umurnya dua puluh tahun. Kemungkinan penyebab perbedaan ini karena perang tersebut berlangsung selama empat tahun. Pada tahun permulaan Rasulullah berumur lima belas tahun dan pada tahun berakhirnya perang beiau sudah memasuki umur dua puluh tahun. (Haekal: 2015)

Ibnu hisyam mengatakan bahwa saat usia Rasulullah menginjak dua puluh tahun, terjadi perang Fijjar antara suku Quraisy dengan didukung Kinana melawan Qais Aylan. Pemicu terjadinya perang tersebut yaitu pembunuhan al-Barradh terhadap Urwah ar-Rahlah yang dilakukan pada bulan haram. Konon keduanya terlibat perdebatan sengit karena Urwah melindungi unta milik an-Nu`man bin al-Mundzir. Al-Barradh bertanya pada Urwah “Apakah engkau melindungi unta tersebut dari Kinanah?”, Urwah menjawab, “Ya, bahkan aku melindunginya dari semua manusia.” Setelah itu Urwah keluar dengan membawa unta tersebut, al-Barradh mengikuti untuk mencari kelengahan Urwah. Saat tiba di daeran Taiman, Urwah mulai lengah dan al-Barradh serta merta menyergap lalu membunuhnya. Selang beberapa lama perihal pembunuhan Urwah telah sampai kepada suku Quraisy. Lalu mereka berangkat ke tempat Hawazin. Ketika Hawazin mendengar kenberangkatan orang Quraisy, merekapun bergegas menyusul. Keduanya bertemu sebelum memasuki tanah haram dan meledaklah pertempuran itu. Rasulullah turut serta dalam sebagian hari perang Fijjar tersebut. Beliau diajak oleh paman-pamannya.(Hisyam: 2006)

Terdapat juga perselisihan mengenai tugas yang dipegang Rasulullah dalam perang itu. Ada yang mengatakan tugasnya mengumpulkan anak panah yang datang dari pihak Hawazin lalu diberikan kepada paman-pamannya untuk dibalikkan kembali ke pihak lawan. Yang lain berpendapat ,bahwa ia sendiri ikut memanah. Tetapi mengingat peperangan itu berlangsung sampai empat tahun, maka kebenaran kedua pendapat itu dapat saja diterima. Mungkin dan mulanya dia hanya mengumpulkan anak panah untuk pamannya dan kemudian dia sendiri pun ikut melemparkannya kepada musuh. Beberapa tahun sesudah kenabiannya Rasulullah menyebutkan tentang Perang Fijar itu berkata; “Aku mengikutinya bersama paman-pamanku, juga ikut melempar panah dalam perang itu; aku tidak suka kalau tidak ikut melaksanakannya.” Perang Fijjar diakhiri dengan perdamaian antar kedua belah pihak. Perjanjian damai itu dicapai dengan cara menghitung korban manusia antar kedua belah pihak, pihak yang menderita korban lebih sedikit harus membayar ganti rugi sesuai dengan selisih korban yang dialami pihak lawan. Karena korbannya lebih sedikit, kaum Quraisy harus membayar kompensasi sebanyak 20 orang sesuai dengan kematian dari pihak Hawazin.( Haekal: 2015)

Selain perang Fijjar, beliau juga turut sebagai saksi dalam perjanjian Hifl al-Fudhul (Persekutuan atau perjanjian bersama antara beberapa kabilah Arab untuk saling bantu dalam mengahadapi musuh bersama). Hifl al-Fudhul merupakan persekutuan yang dibentuk oleh beberapa anak suku kabilah Quraisy, mereka bersepakat dan saling berjanji akan mencegah terjadinya kedzaliman yang dilakukan oleh orang di Makkah terhadap salah seorang penduduknya atau terhadap orang darimana saja yang ada dalam kota itu. Mereka merasa berkewajiban menolak dan menentang setiap kedzaliman yang hendak dilakukan orang.(Al-Ghazali: tt)

Hifl al-Fudul dilatar belakangi oleh bencana yang mengguncang sendi-sendi komunitas kaum Quraisy, bencana yang dampaknya dirasakan oleh semua penduduk Makkah. Bencana tersebut dipicu oleh perpecahan setelah Hasyim dan Abdul Mutthalib wafat. Masing-masing pihak yang berseteru bersikukuh ingin menjadi pemimpin Quraisy. Jika pada awalnya orang arab menjauhi masalah politik, kini mereka saling berebut kekuasaan. Akhirnya atas usul Zubair ibn Abdul Mutthalib diadakan pertemuan dan penjamuan makan di rumah Abdullah ibn Jud`an yang dihadiri oleh keluarga Hasyim, Zuhrah, dan Taim. Mereka bersepakat berjanji atas nama Allah Yang Maha Esa bahwa Allah berada di pihak yang teraniaya sampai orang itu mendapat haknya. Rasulullah Bersabda: “Aku tida mau mengganti perjanjian yang kuhadiri di rumah Ibn Jud`an itu meski dengan seekor unta yang paling bagus. Seandainya perjanjian itu terjadi lagi saat ini, dan aku diundang, pasti aku akan menghadirinya. (Haekal: 2015)

Mengenai kebiasaan Rasulullah ber`uzlah dan tidak mengikuti kebiasaan orang arab yang senang berfoya-foya bukan berarti beliau sosok yang individualis, melainkan suatu bentuk penjagaan Allah terhadapnya sebagai orang yang akan dinobatkan sebagai Rasul. Juga dengan kebijaksanaan dan kecerdasannya, Rasulullah dapat memilah antara yang baik dan yang buruk,dan memilah kegiatan apa yang harus dan tidak diikuti.

DAFTAR PUSTAKA

Haekal, Muhammad Husain. 2015. Hayatu Muhammad. Terj. Miftah A. Malik. Jakarta: Pustaka Akhlak.

Al-Ghazali, Muhammad. Tt. Fiqhus Sirah, Terj. Abu Laila dan Muhammad Thohir. Bandung: Al-Ma`arif.

Hisyam, Ibnu. 2006. Sirah Nabawiyah, Terj. Fadhli Bahri. Bekasi: Darul Falah.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom