Fasilitas
Unit
Jumat, 28 Oktober 2016 13:09:22 WIB Dilihat : 548 kali

Selasa, 25 Oktober 2016 Prodi Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggraakan acara Simposium Ilmiah Studi Hadis di Indonesia di Hotel University, Sambilegi Yogyakarta. Dalam kesempatan tersebut hadir Dr. Muhammad Zain, S.Ag. M.Ag. selaku Kepala Subdirektorat Pengembangan Akademik Pada Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama RI. Dalam kesempatan tersebut Pak Zain, sapaan akrab beliau membuka acara Simposium Ilmiah Studi Hadis di Indonesia.

Sementara itu, dalam sambutannya, Kaprodi Ilmu Hadis Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag. M.Ag. mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta yang hadir dalam acara tersebut. Dalam acara ini akan dikaji tentang KKNI bagi prodi Ilmu Hadis. Sebagai ajang pertemuan ahli hadis Indonesia, keberadaan pertemuan ini adalah sangat penting untuk menaikkan citra sebuah prodi termasuk di dalamnya ketika akreditasi prodi. Hal-hal yang dibahas dalam pertemuan Simposium Ilmiah Studi Hadis di Indonesia dapat dijadikan dalam melakukan evaluasi kurikulum sebuah prodi.

Dalam acara ini dihadiri pula akademisi hadis seluruh Indonesia antara lain Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag. UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Nawir Yuslem, Prof. Dr. H. Ramli Abdul Wahidu, M.A, dari UIN Sumatera Utara, Prof. Dr. Anton Athoillah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Endang Soetari, Ad. Universitas Garut dan doktor dari berbagai perguruan tinggi Islam di bidang hadis baik negeri maupun swasta.

Setelah mengalami diskusi panjang tentang kurikulum KKNI, maka matakuliah yang disepakati prodi antara lain Hifzul Quran, Hifzul Hadis, Mustolahul Hadis, Sirah Nabawiyah, Metodologi Penelitian Hadis, Kajian Kitab Hadis, Fiqhul Hadis, Studi Hadis di Indonesia, dan Praktikum Hadis. matakuliah tersebut disesuaikan dengan prodi masing-masing untuk jumlah SKS dan nama matakuliahnya.

Adapun capaian secara khusus adalah lulusan program sarjana Program Studi Ilmu Hadis wajib memiliki keterampilan khusus sebagai berikut: pertama, mampu mentahrij hadis dengan baik dan benar; kedua, mampu mendesain dan mendokumentasikan hadis secara digital berbasis perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informatika; ketiga, mampu membaca teks hadis yang berasal dari sumber aslinya dengan baik dan benar; keempat, mampu mengkontekstualisasikan makna kandungan hadis sejalan dengan dinamika kehidupan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; kelima, mampu menghafal beberapa hadis-hadis tertentu/masyhur; mampu membaca literatur asing (Arab dan non Arab) yang terkait dengan keilmuan hadis dan matan hadis; keenam, serta mampu menyebarluaskan hadis dan kandungannya kepada masyarakat secara baik dan benar dalam rangka syi’ar agama. (MAS)

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom