Wajah al-Qur’an Hadis dalam Bingkai Informatif dan Performatif

Ahmad Rafiq selaku direktur eksekutif LSQH ingin memasuki dunia digital dengan menambah sesaknya dunia maya dengan modal yang dipunyai LSQH dalam core study Jurusan atau Prodi TH yang sudah beralih menjadi prodi Ilha dan IAT, yaitu al-Qur’an dan Hadis. Respon atas kedua ajaran itu orang tidak dapat diprediksi dan respons ini sangat beragam dan tidak tunggal. Persolaan kafir sebagaimana yang viral di era setelah Munas NU, jauh sebelum itu Ketua LSQH sudah mengkaji dua tahun sebelumnya. Al-Qur’an dan Hadis memiliki respons baik simpatik maupun tidak yang berdarah-darah seperti adanya mihnah apakah al-Qur’an makhluk atau tidak. Sehingga Abu Zar al-Ghifari tidak diketahui makamnya. Beliau diusir Mu’awiyah dari Kota Damaskus dengan pertarungan pemahaman ayat dalam QS. Al-Taubat (10): 34.

Abu Dzar mengkritik Mu’awiyah dengan ayat di atas yang menumpuk harta sedangkan Mu’awiyah menyangkal dengan mengatakan ayat itu untuk Ahl al-Kitab karena dua ayat sebelumnya. Sampai setelahnya tidak diketahui di mana makamnya. Fenomena al-Qur’an dan Hadis sangat multi interpretasi. LSQH akan membuka wacana dengan beragam respons di era sekarang.

Defenisi al-Qur’an dan hadis saja tidak tunggal. Problem defenisi bukan yang salah melainkan defenisi formal seperti defenisi al-Qur’an. Termasuk Hadis yang terdiri aats perkataaan, perbuatan dan taqrir. Fenomena al-Qur’an dikenal sebagai al-muta’abbdu bitilawatihi tidak terjadi di awal turunnya wahyu pertama (al-alaq). Oleh karenanya diperlukan defenisi kedua yang substansial. Dalam konteks ini sesuai dengan fungsi dari kedua sumber ajaran Islam yang menjadi bagian dari kehidupan keberagamaan ummat Islam yakni petunjuk. Sehingga pesan kenabian yang diusung adalah Islam yang secara substantif jika setiap ummat Islam berpegang teguh atas al-Qur’an dan Hadis. Fungsi utama keduanya adalah hudan atau petunjuk. Oleh karenanya dalam hal ini dalam substansi bukan dalam formal sebagaimana dalam mushaf dan kitab-kitab takhrij, seperti QS. (17): 78 orang mengambil petunjuk waktu shalat. Hadis tentang isbal ada yang memakai dan ada yang tidak, ada terkait dengan hal ini adalah kesombongan. Cara orang mengambil petunjuk dapat berbeda-beda.

QS. Al-Ihlash (112) di Makkah awalnya terkait pertanyaan orang Quraish yang menyembah berhala dan menganggap malaikat anak Tuhan. Kemudian dijawab Nabi dengan surat tersebut. Ternyata Nabi saw. pindah ke Madinah berbeda, ada seorang Imam Masjid di Qubah membaca al-Ikhlash dalam setiap rakaat shalatnya. Beliau kemudian menjawab pembacaan surat tersebut sebgai kecintannya. Sehingga terdapat pergeseran dari dialogis ke ekspresi cinta seseorang yang kemudian Nabi Muhammad saw. kecintaan tersebut menjadi perantara menuju surga. Demikian juga dengan pembacaan al-Qur’an dianggap khatam jika membaca surat al-Ikhlas tiga kali. Beragam defisini tersebut belum bisa menggambarkan atas al-Qur’an dan Hadis.

Defenisi formal dan defenisi substansial belum bisa dapat menggambarkan atas kedua sumber ajaran. Atas al-Qur’an respon Tuhan atas peristiwa yang dialami Nabi saw. seperti pertanyaan Nabi saw. dan Hadis peristiwa yang dialami Nabi saw. Oleh karenanya diperlukan pemahaman ketiga yakni dalam perspektif historis yaitu defenisi historis. Al-Qur’an dan Hadis respon Nabi atas peristiwa yang dialami Nabi bersentuhan dengan orang atau penerima dan persentuhan itu terjadi terus menerus antara manusia dengan obyek al-Qur’an dan hadis baik secara unik dan dinamis. Inilah yang kemudian dikenal dengan living al-Qur’an dan Hadis.

Dinamika interaksi manusia al-Qur’an dan Hadis dapat tergambar dengan bentuk aspek informatif dan aspek performatif. Aspek informatif menggambarkan informasi yang terdiri atas kata-kata dengan struktur mengembangkan. Teks menyampaikan informasi yang dideliver pada orang lain. Hal ini ditunjukkan dalam sejumlah kitab-kitab tafsir dan syarah hadis sehingga menjadikan pesan dapat dipahami sesuai kesepatan yang ada. Sedangkan aspek lain dari teks adalah dalam bentuk perilaku. Performatif melahirkan banyak perilaku, tradisi, dan ritual yang terus berkembang dari waktu ke waktu.Aspek performatif pembacaan melahirkan bentuk yang mencakup mencakup tajwid, makharij al-huruf, dan nagam. Hal ini tidak saja memaknai al-Qur’an tetapi juga pembacaan. Sebagaimana cerita di atas tentang pembacaan al-Ihklas jika di awal informatif dan kemudian mejadi performatif sebagaimana kasus Imam Quba.

Tafsir yang ada dapat disampaikan dalam dunia maya dengan beragam bentuk seperti melalui narasi, audio visual, gambar atau meme dan lainnya. Hal ini penting untuk memasuki dunia maya salah satunya dengan menjadikan bentuk pemahaman antara kedua hal tersebut baik informatif maupun performatif. Frame adalah pembatasan maka tidak mungkin bisa menggambarkan semua kesatuan utuh dalam tafsir. Satu gambar menyampaikan banyak makna seperti foto dengan senyum maka ada banyak makna murah senyum, senyum murahan, sakit gigi, sadaqah, atau yang lain. Oleh karena itu bisa mengambil bentuk informatif dan performatif atas al-Qur’an dan Hadis. (MAS)